Kisah ini bercerita tentang kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya dan kasih sayang anak terhadap ibunya...
Sebut saja Ines seorang gadis remaja , muda belia, ia anak satu-satunya , dan dekat sekali dengan ibunya , bisa di bilang mereka layaknya seorang sahabat . selalu bercerita setiap saat , setiap waktu , tak ada lagi jarak pemisah di antara mereka berdua. Selalu terbuka satu sama lainnya , jujur dengan perasaan masing-masing , tak ada lagi malu dan keraguan yang biasanya kerap kali terjadi antara pasangan ibu dan anak dewasa ini , terutama di indonesia ini. Kerap kali budaya kita terkadang masih menawarkan nuansa-nuansa bahwa anak itu harus takut kepada kedua orang tuanya , khususnya ibu , apalagi biasanya hubungan antara seorang ibu dengan anak perempuannya tak selamanya mulus, banyak kerikil-kerikil tajam menerpa di dalamnya..
Ibu adalah seorang manusia dengan fisik perempuan ciptaan Tuhan yang sungguh mulia ,sungguh baik hatinya , anggun sikap jiwa dan raganya , ibu tempat kita mengadu di kala suka maupun duka.. ibu yang membuat seorang ines sungguh berbahagia dan ceria , ibu yang membuat ines menjadi diri yang kuat dan tegar..
Ines gadis muda yang ceria, memiliki talenta luar biasa di bidang seni , memiliki suara indah nan merdu , memiliki kemampuan untuk menari , berpuisi , bermain musik. Hampir semua jenis alat musik di kuasainya.
Ines yang memiliki keluarga bahagia , memiliki ibu dan ayah yang sungguh menyayanginya dan mencintainya hingga nafas tak lagi ada..
Bisa di bilang kehidupan ines benar-benar merupakan anugerah Tuhan yang patut di syukuri, apapun yang ia minta selalu di turuti , apapun yang ia mau selalu saja terpenuhi. Ini semua terjadi karena memang ia berasal dari keluarga berada.
Waktu pun terus berlalu , lambat laun angin bertiup berhembus kencang menerpa waktu , menerpa kehidupan , menyusun kembali rantai-rantai kehidupan. Matahari bersinar dengan cerahnya , bunga bermekaran dengan warna-warna indahnya.
Ines berjalan tegap menyusuri waktu dengan tatapan penuh semangat dan optimis .
Kala pagi ia bangun , kala siang ia beraktifitas , kala sore sejenak ia meluruskan badan , kala malam , ia melenturkan badan dengan sigapnya.
Tanpa terasa umur semakin tua dan semakin bertambah , wajah terlihat lebih dewasa , badan terlihat lebih sempurna dengan susunan-susunan tubuh yang akan menemukan jati dirinya.
“Happy birthday ines , semoga kamu sehat selalu , panjang umur , dan sukses ya nak , bunda selalu sayang dan cinta kamu”
“makasih ya bunda , ines seneng bunda selalu mengerti ines , bunda emang ibu sekaligus sahabat ines, amin bunda atas doanya , amin ya Allah”
“selamat ulang tahun ines anak ayah yang cantik , semoga hidup kamu selalu bahagia dan sukses”
“makasih ayah , atas doanya , ayah emang paling the best (mengacungkan jempol) iya gak bun , love u mom love u dad (memeluk bahu kedua orang tuanya)”
Saat itu ines tengah merayakan ulang tahunnya yang ke enam belas. Sungguh usia yang masih belia dan masih sangat membutuhkan kasih sayang dan nasihat kedua orang tuanya.
“Ines sayang bunda mau tanya , kamu mau hadiah apa ?”
“hmm, apa ya bun , kalau gitar aja gimana bun , ines kan suka musik , jadi kapan pun di kala ines dapat inspirasi , ines bisa bernyanyi dengan lagu ciptaan ines sendiri”
“hmm gimana ya anak manis , bunda sih mau-mau aja , tapi kamu harus janji sama bunda untuk selalu rajin belajar , kamu boleh suka seni , musik , dan lainnya , tapi tetap yang utama pendidikan nak”
“ok bunda , dont worry, ines tahu kok , walaupun aku tidak begitu cerdas di akademik , bukan berarti aku malas , dan melupakan sekolah, dont worry mom”
“hmm, ada apa sih ribut –ribut , kok ayah gak di kasih tahu , ayo ada apa , sepertinya rahasia ibu dan anak nih”
“ada deh (kompak ines dan ibunya sambil tersenyum)”
“memang perempuan selalu sulit untuk di mengerti (menggelengkan kepala)”
Terlihat jelas keadaan mereka , bahagia , tulus sekali ..
Keluarga yang hanya terdiri dari tiga anggota keluarga , ibu , ayah , dan anak tunggalnya , setiap hari selalu mempunyai kisah berbeda.
Keluarga kecil yang bahagia dan kompak , keluarga kecil yang selalu tersenyum dalam sedih dan duka, keluarga kecil yang selalu menyalakan lilin di hatinya kala gelap maupun terang , yang selalu memberikan wangi semerbak di setiap gerak-geriknya.
Keluarga kecil yang selalu berusaha tegar dalam terpaan badai , badai yang pasti akan datang , yang tak akan tahu , kapan badai itu datang dan pergi.
Keluarga kecil yang selalu tak mau larut dalam kesedihan yang larut tak berujung , menangis di kala malam , kala tak ada sinar yang mendekat , tertawa di kala pagi saat orang lain mengharapkan senyuman terindah kita , bukan wajah muram nan kusam.
“bunda , aku mau cerita , aku bakal tampil loh ke luar negeri , ikut nari , lomba nari bun , aku yakin pasti menang , bunda doain aku ya, sayang bunda deh , hmm, bakal beberapa hari nih gak ketemu bunda,pasti kangen (sambil memeluk erat bunda)”
“amin ,bunda yakin kok kalau kamu pasti menang , nes , kamu itu berbakat , bakat kamu itu alami , jadi kamu gak perlu takut yang sayang , bunda selalu dan pasti dukung kamu, Cuma beberapa hari kok nak ,semangat (sambil tersenyum dan mengusap dahi ines)”
“oh ya bun , aku juga mau cerita nih , aku seneng banget loh tadi di sekolah , ternyata teman-teman aku tuh baik banget sama aku , khususnya sila, dia itu teman sebangku aku loh bun , dia baik banget , selalu mau dengerin cerita-cerita aku , liat puisi-puisi aku , satu lagi bun , terkadang dia mau loh nganterin aku lomba nyanyi , bunda tahu kan , saingan-saingan aku itu berat , tapi bunda tahu gak , sila selalu bilang kalo aku yang bakal jadi juara bun, sungguh baik sila , alhamdulillah aku bersyukur punya temen seperti dia , pasti nanti kalo udah kuliah aku kangen deh “
Beberapa hari kemudian setelah percakapan terjadi..
“sila, kamu mau ikut aku tampil nyanyi gak ?”
“di mana nes , emang kamu mau nyanyi di mana ? aku sih mau aja (senyum)”
“di salah satu resto sil , aku sih pengen nyanyi aja di sana , kebetulan kan di sana ada fasilitas musiknya , lagipula , aku kenal kok dengan salah satu pemain bandnya”
“bagus, kamu mau nyanyi pop , dangdut , atau apa ?”
“apa aja deh sil , kamu kan tahu aku bisa nyanyi semuanya , heheeee”
“ya , aku percaya kok , temanku yang satu ini kan emang jago seni , bukan hanya nari , main musik , nyanyi pun di lahapnya , bukan begitu nes , hahaaaa”
“sipp boss”
Biasa lah jika seorang remaja sedang bercakap-cakap , selalu saja ada canda tawa di dalamnya, selalu saja ada senyuman tulus dari lubuk hati tanpa ada beban yang terlintas, masa remaja memang masa paling indah.
Namun sayang seribu sayang , senyuman itu berganti duka, ines mendapati bahwa ibunya mengidap penyakit komplikasi , yang bisa menyebabkan kanker , sungguh ironis memang baru saja ines merayakan ulang tahunnya,dalam waktu sekejap saja ia mendapati ibunya terbujur lemas di ranjang sebuah kamar VVIP rumah sakit. Setiap hari ines selalu menjenguk ibunya dan berdoa dengan uraian air mata mengalir deras agar ibunya cepat sembuh , dan bisa kembali berkumpul bersama dirinya dan ayahnya.
Sayang , sepertinya untuk hal ini , ines tak mudah untuk mendapatkan apa yang ia mau , ia harus berjuang dengan keringat dan tangisan agar ibu yang sangat ia sayangi dan cintai benar benar pulih.
“Bunda,apa kabar bun ? kenapa bunda seperti ini , ines sedih bun (menangis deras)”
“ines sayang , bunda baik-baik aja kok , kamu jangan nangis dong sayang , bunda gak kenapa-kenapa kok , udah ya sayang , bunda gak suka deh liat kamu jadi cengeng gini , hei ayo kamu masih ingat apa yang bunda bilang , anak manis gak boleh cengeng , harus tegar ,walaupun anak tunggal harus bisa mandiri (tersenyum dengan wajah pucat)”
“siapa yang gak sedih coba kalo liat ibunya begini, anak manapun pasti sedih bunda , sangat sedih , apalagi dengan infusan banyak kayak gini, bunda (memeluk dengan berurai air mata)”
“ya sayang. senyum dong , ini kan Cuma infus dan alat bantu nafas, besok , sebentar lagi bunda juga sembuh kok ,udah jangan nangis ya cantik (tersenyum)”
“ya bun , ya (berurai penuh air mata)”
Di lain waktu di ruangan dokter
“pak , sebagai dokter yang menangani istri bapak , saya sudah berusaha semampunya pak , melakukan penanganan sesuai prosedur medis dan kode etik dokter. Namun saya sudah tidak bisa berbuat banyak lagi pak , biarkanlah sekarang Allah swt yang memberikan jawabannya,biarkanlah DIA berkata dan berkehendak , serahkanlah dan pasrahkanlah kepada-NYA”
“maksud dokter apa dok , kondisi istri saya sudah tidak dapat di tolong lagi , sungguh begitu dok ?(wajah pucat pasi dan sedikit berkaca-kaca)”
“ya , maaf pak , tapi saya sudah mengusahkan yang terbaik untuk istri bapak, saya harap bapak dapat mengerti dan menerima ini semua dengan lapang dada”
“ya ALLAH , astaghfirullah , kenapa seperti ini , kenapa begitu cepat ini terjadi , bagaimana dengan ines nanti (menangis kecil)”
Sungguh mengharukan apa yang di katakan dokter , sungguh suatu hal yang sulit di terima dengan akal sehat dan lapang dada , yang ada hanya kecemasan berurai air mata.
“Ines sayang , satu pesan bunda , kalau bunda udah gak ada , kamu gak boleh cengeng , kamu harus kuat nak , mandiri , jangan lupa sholat , jangan lupa berdoa untuk bunda dan ayah nak , jangan lupa sekolah kamu nak , ingat sebentar lagi kamu kuliah , harus rajin dan tekun belajar ,janji sama bunda ya ,bunda selalu sayang dan cinta kamu , bunda selalu merindukan kamu , suatu saat kita pasti berkumpul bersama lagi nak (tersenyum dengan bicara terbata-bata)”
“bunda , bunda gak boleh ngomong kayak gitu , bunda harus kuat , harus pokoknya , nanti siapa yang mau nemenin ines , siapa yang mau dengerin curhatan ines tiap hari , siapa lagi yang paling ngertiin ines banget kalo bukan bunda (menangis deras)”
“ada ayah , sayang , ada saudara kamu lainnya , ada sila teman baik kamu , dan masih ada banyak orang lainnya yang sayang sama kamu , walaupun bunda gak ada , bukan berarti kamu tidak ada yang menyayangi dan mencintai , percaya bunda deh (tersenyum)”
“bunda , gak , ya Allah bunda gak boleh pergi , bunda jangan pergi , bunda , bunda bangun bunda , bangun , bunda”
“bunda selalu sayang ines , bunda selalu akan merindukan ines , baik-baik nak kamu di sini , jaga ayah (berbicara dengan sangat terbata lalu menghembuskan nafas terakhir)”
“BUNDA ,,GAK BUNDA GAK BOLEH MATI , BUNDA GAK BOLEH PERGI , BUNDA BANGUN BUNDA , BANGUN , BUNDAAAAAAAAAAAAAAAA(Berteriak , menangis sekuat-kuatnya , sambil memeluk tubuh ibunya)”
“Ines , kamu yang sabar nak , kamu jangan seperti ini , ayah tambah sedih nak , ines (menangis deras)”
Beberapa minggu kemudian , ines tak kunjung masuk sekolah , sepeninggal ibunya pergi , ines menjadi muram ,kusam, tak berdaya , tubuhnya lemas dan tak bisa bangun dari tempat tidurnya, ia hanya di kamar , sendiri , menepi , dan menepi , ia masih belum bisa menerima kepergiaan ibunya , ia sungguh sangat kehilangan.
“ines , ya sudah ayah tahu , bunda sekarang sudah tak ada , ayah paham jika kamu seperti ini , psikis jiwa kamu tak terima kepergiaan bunda , tapi tolong nak , kamu jangan berlarut-larut dalam kesedihan , ya sudah kalau memang sampai sekarang kamu belum mau lagi pergi ke sekolah , ayah sungguh ngerti (memeluk ines dan mengecup kepalanya)”
Keesokan harinya ..
“bunda , kenapa bunda begitu cepat pergi meninggalkan ines , oh bunda tahukah dirimu di sini ku merindukanmu , oh tuhan ku coba bertahan saat kau ambil dia pergi dari hidupku”
Saking terharunya atas kejadian ini , ines pun menciptakan sebuah lagu untuk ibunya, lagu yang dalam dan sedih,,
“teringat masa keciku ,di peluk mesra di manjakan selalu hangatnya sentuhan darimu”
“terasa nyaman ku saat bersamamu”
“kini kau telah pergi jauh meninggalkanku”
“oh bunda tahukah dirimu di sini ku merindukanmu”
“oh tuhan ku coba bertahan , saat kau ambil dia pergi dari hidupku”
“teringat selalu akan senyum mu saat mengisi hariku denganmu”
“setiap hari setiap waktu hanya kepadamu ku mau bercerita”
“kini kau telah pergi jauh meninggalkanku , oh ku tetap bertahan”
Sebuah lirik yang betul – betul menyentuh dan hanya orang yang bisa benar-benar merasakan, jika ia telah kehilangan seorang ibu. Sungguh berarti seorang ibu , walaupun dia telah tiada, kita tidak akan sepenuhnya tegar menghadapi semua ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar